Minggu, 28 Desember 2008

JENDELA


JENDELA


Ada sepasang suami istri yang baru pindah rumah. Ketika mereka menyantap sarapan pagi pada keesokan harinya, sang istri melihat tetangganya yang menjemur pakaian diluar rumah.
“Cuciannya tidak begitu bersih,” ucap sang istri kepada suaminya. “Dia tidak tahu cara mencuci yang bersih, mungkin dia butuh sabun cuci yang lebih bagus”.
Suaminya pun ikut melihat tetapi tidak bersuara.
Setiap kali tetangganya menjemur pakaian, sang istri selalu mengatakan hal yang sama.
Sebulan kemudian, sang istri terkejut ketika melihat cucian yang bersih dijemuran tetangganya. Ia pun berkata pada suaminya, “Lihatlah! dia telah belajar cara mencuci yang benar. Siapa yang mengajarkan padanya ya?”.
Sang suami berkata,”Aku bangun awal pagi ini dan membersihkan jendela kita!”.
Bukankah ide yang bagus untuk mengecek terlebih dahulu apakah jendela anda bersih? Apa yang kita lihat ketika melihat seseorang tergantung dari kebersihan jendela tempat kita melihat. Sebelum kita mengkritik sesuatu, ada baiknya kita mengecek dulu pikiran kita dan bertanya pada diri kita sendiri apakah kita bisa melihat sesuatu yang baik daripada mencari sesuatu yang salah dari orang-orang tersebut.

Jumat, 26 Desember 2008

JIKA SEMUA JADI PENGUSAHA


JIKA SEMUA BANGSA INDONESIA PENGUSAHA…?
Sosiolog David McClelland berpendapat,”Suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur (pengusaha) sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya”. Sedangkan Indonesia hanya 0,18% dari jumlah penduduk atau 400.000-an orang saja yang menjadi pengusaha. Jadi negara kita ini masih jauh dari angka kemakmuran. Bandingkan dengan negara tetangga Singapore, mereka memiliki 7% populasi penduduknya sebagai pengusaha. Alhasil mereka kekurangan tenaga kerja dan mengimport dari luar. Apa faktor-faktor yang menyebabkan suatu negara menghasilkan banyak pengusaha? Pertama, insentif sebagai pengusaha diperbesar, seperti kemudahan membuka badan usaha, fasilitas kredit usaha dengan bunga ringan, hingga keringanan pajak. Yang lebih penting lagi adalah ‘pembunuhan’ pungli oleh para aparat. Namun itu semua bukan faktor utama, karena sifatnya ‘iming-iming’. Seperti saya tuliskan dalam kitab persilatan usaha ”The Power of Kepepet” (Gramedia), “Kepepet adalah motivasi terbesar manusia untuk berubah”. Selama terlalu banyak proteksi bagi kaum pekerja, rasa nyaman itu akan menggerogoti mental bangsa ini. Nah, inilah faktor kedua yang terpenting harus dilakukan, terutama oleh pemerintah. Sejarah mencatat, para ‘patriot’ tumbuh saat penindasan terjadi. Memang kesannya tidak berperi ‘keburuhan’ dan akan terjadi gejolak jika hal ini diterapkan. Tapi saya yakin, lambat laun akan terlihat hasilnya, pertumbuhan perekonomian (dan pengusaha) akan meningkat. Namun itu semua juga harus diimbangi dengan maraknya kampanye menjadi ‘juragan’, hingga mereka tidak terlalu depresi dan menimbulkan gejolak. Just an idea, bagaimana jika kita buat gerakan ‘Sejuta Pengusaha’ atau ’10 juta Pengusaha’? Wah seperti apa negara ini jika pengusahanya membludak? Pasti banyak pembaca mengerutkan dahi dan menanyakan,”Kalo semua bangsa Indonesia jadi pengusaha... Siapa yang akan jadi kulinya Mas J?” Gampang aja, ya tinggal import TKA (Tenaga Kerja Asing/Arab), TKB (Tenaga Kerja Bule), TKM (Tenaga Kerja Malaysia). Coba bayangkan, suatu saat Anda punya sopir orang bule, keren kan! Masak kita masih bangga menjadi negara pengeksport TKI, diperkosa lagi! Lagian, kondisi itu belum tentu terjadi dalam 1 abad ini di Indonesia. Kenapa? MENTAL PASRAHnya kelewat besar. “Sudah nasibku jadi karyawan, ya lakoni aja!” katanya. Kasihan banget tuh si ‘nasib’, selalu jadi kambing hitam. Sebagai bahan renungan terakhir,“Mengapa tenaga upah buruh di Indonesia murah?” Karena pengusahanya sedikit, kulinya melimpah! Jika pengusahanya banyak, kulinya dikit, pasti upahnya tinggi dan pengusaha tak akan semena-mena!
“Daripada Unjuk Rasa, Lebih Baik Kita Buka Usaha!” FIGHT!
Jaya Setiabudi Direktur Young Entrepreneur Academy 0819 818 919 http://www.yukbisnis.com/

Gila, Gelo, Gendeng

Teknologi 3G: Gila, Gelo, Gendeng
Siang itu, di sela-sela sebuah acara di Denpasar saya ngobrol dengan Purdi Chandra dan Mr. Joger, dua pengusaha yang terkenal humoris. Mr. Joger sempat bercerita bahwa dia tidak pernah sekalipun merasa sedih. Dia selalu gembira, antusias dan berpikir positif. Ternyata, konsep duka memang tidak ada dalam benaknya. Terus, dia bertutur tentang Purdi Chandra yang hampir selalu berhasil dalam bisnis-bisnisnya. Rupa-rupanya, Purdi Chandra memang tidak pernah memasukkan konsep gagal ke dalam pikirannya. Mirip-mirip dengan orang gila. Hush, jangan sembarangan! Lha, saya serius! Apa pernah orang gila jatuh sakit? Jarang-jarang 'kan? Itu karena konsep sakit tidak pernah ada di benak orang gila. Tengok pula anak kecil. Sebenarnya sih konsep takut tidak pernah terlintas di kepalanya. Namun sayangnya, acapkali orangtuanyalah yang menjajal dan menjejalkan konsep takut kepadanya, “Kalau kamu nakal, ntar digigit anjing lho!” atau, “Kalau kamu nggak mau makan, bakal didatangin kuntilanak lho!” Akhirnya, si anak jadi merinding beneran. Konsep takut pun menyelinap dan bersemayam di otaknya.Kesimpulannya, hati-hati dengan pikiran Anda. Pilah dan pilih konsep yang patut bercokol di sana. Tayangan di televisi, majalah dan suratkabar acap kali mencekoki otak Anda dengan hal-hal yang negatif. Dan repotnya lagi, sering kali Anda tidak menyadarinya. Pst, kalau sudah begitu, siapa sih yang rugi? Yah, Anda sendiri! Si pembuat acara mana mungkin rugi! Rating acara meroket. Iklan-iklan pun berdesakan. Saldo mereka pun melambung. Kembali pada orang gila. “Hei, Penulis! Nggak salah nih? Kita yang waras gini malah ngomongin orang gila!” Yah, mana mungkin orang gila yang cerita tentang kita? Hahaha, saya bercanda. Bagi saya, orang-orang yang luar biasa adalah orang-orang yang sedikit gila. Bukankah sesepuh Intel, Andy Groove bersikeras, “Only paranoid can survive.” Yang gila, yangbertahan. Makanya, gunakan Teknologi 3G alias Gila, Gelo, Gendeng.
Tentu saja, bukan dalam pengertian sakit jiwa. Tetapi maksudnya, tidak jarang mereka berpikir dan berkhayal secara tidak rasional. Betul-betul lateral. Pokoknya, rada ngawur, rada ngelantur. Sehingga lingkungan di sekitarnya tanpa tedeng aling-aling menuding, “Ah, dasar gila! Mana mungkinitu terjadi!” Toh, pada akhirnya itu terjadi juga. Tidak perlu contoh. Anda pasti sudah sering menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut saya, untuk menjadi orang yang luar biasa, lakukanlah apa yang tidak dilakukan oleh orang biasa. Kurang jelas? Baiklah, saya tampilkan beberapa ilustrasi. Orang biasa menghabiskan waktunya 2-3 jam sehari untuk menonton sinetron (Menurut sebuah riset, orang Indonesia menghabiskan 2 jam 48 menit dalam sehari di depan televisi. Bilamana dibandingkan dengan negara-negara lain, durasi itu terhitung lama).
Orang biasa menghabiskan Sabtu-Minggu-nya untuk bermalas-malasan. Orang biasa menghabiskan waktu, uang dan kartu kreditnya di pusat-pusat perbelanjaan. Ketahuilah, orang luar biasa tidak pernah melakukan semua itu. Dan ketika Anda coba meniru orang luar biasa, saya jamin Anda akan dicap 'gila' oleh orang biasa. Tidak percaya? Lakoni saja!
Belum lama ini di Jakarta, saya bertemu dan bertukar pikiran dengan Helmi Yahya, biangnya Reality Show di tanah air. Ketika ia berkisah tentang betapa workaholic-nya dia semenjak kecil, saya langsung bergumam dalam hati, “Dia telah membayar harganya dan dia pantas memperoleh ganjarannya.” Lihat pula Aa Gym, pendakwah sekaligus pengusaha. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia memanfaatkan waktunya menit demi menit secara optimal. Dan kita semua maklum apa yang telah ia capai.
Sebelumnya, maafkan saya apabila tulisan saya kali ini sedikit semrawut. Maklum, tulisan ini memang dibikin sespontan mungkin, seinstan mungkin! Lagi pula, tulisan ini memang hanya untuk orang gila kok. Hei, jangan tersinggung! Tetapi yang penting, Anda pilih yang mana? Menjadi orang biasa atau orang luar biasa? Setidak-tidaknya, sebelum menjadi orang luar biasa, Anda sudah menjadi orang biasa di luar 'kan? Hahaha, saya bergurau.
Sekali lagi, jadilah orang yang luar biasa! Meskipun untuk itu, Anda kudu merelakan diri untuk dilabel 'gila' oleh orang-orang di sekitar Anda. Percayalah, sebenarnya gelar 'gila' tersebut merupakan luapan kekaguman alias pujian dari mereka. Ngomong-ngomong, beranikah Anda mengusulkan kepada presiden untuk mencanangkan Hari Gila Nasional? Yah, Anda uruslah sendiri. Kali ini saya tidak ikutan. Rasa-rasanya, saya belum segila itu.

sukses itu pilihan bukan nasib


sukses adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan perjuangan dan pantang menyerah Kalau anda ingin menyalahkan orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan anda dalam hidup,Maka anda bisa memulai dengan menyalahkan diri sendiri? Kenapa demikian? Karena andalah orang yang mengambil keputusan untuk gagal, bukan atasan anda yang galak, bukan andaTak punya kesempatan, bukan orang lain. Bukan Istri anda yang tidak sejalan, bukan teman sekantor anda Yang menyebar gossip, Tetapi karena anda sendirilah yang memutuskan,mengambil keputusan dengan Penuh kesadaran untuk gagal. Seorang pesenam dari jepang meraih medali emas impiannya setelah menari indah di Olympiade. PadahalHari sebelumnya, tumitnya retak dan dokter mengatakan dia akan cacat seumur hidupnya. Rasa sakit dikalahkanOleh kemauannya yang kuat untuk mempersembahkan medali emas bagi negaranya. Sepasang mahasiswa drop-out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan Akan menjadi besar . kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan dua legenda software dunia. Padahal ijazahnya hanya SMA Seorang veteran perang dunia menawarkan resep masakan keluarganya kapada lebih dari seribu orang yang dinilainyaDapat memberinya modal usaha mengembangkan restoran. Seribu orang tersebut menolaknya. Tapi ia tidak menyerah.Bayangkan bila saat itu Kolonel Sanders memutuskan berhenti pada penolakan yang ke 999, mungkin hari ini kita tidak akanPernah makan Kentucky fried chicken. Ketika percobaan lampunya yang kesekian ratus gagal, Thomas alva Edison berkata pada seorang wartawan " saya tidak gagal ! bahkan saya baru saja berhasil menemukan cara ke 879 untuk tidak membuat lampu" pantang menyerah Louse Tendean mahasiswa drop-out dari bandung yang berhasil sukses di Tiens dan menjadi 4 Diamond GoldLion dgn pengahsilan ratusan juta perbulan, bukan karena dia hebat tapi karena dia pantang menyerah dalam menjalankan bisnisnya meskipun ribuan orang menghina dan menolaknya Sukses anda, bukan nasib, sukses adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan perjuangan dan pantang menyerahPada prinsipnya tidak ada orang yang gagal. Yang ada hanya ada Orang yang memutuskan untuk berhenti sebelum mencapai sukses.